Bahasa Indonesia relatif lebih mudah, dibandingkan bahasa Inggris, Arab, atau Mandarin misalnya. Hal ini disebabkan karena struktur Bahasa Indonesia (yang baku) termasuk sederhana. Sering ada joke yang bilang anak kecil bule itu pintar, kecil-kecil udah jago ngomong Inggris. Mungkin kita menanggapi "ah itu kan bahasa ibunya, kita juga kecil-kecil sudah jago ngomong Indonesia", tapi coba kita bandingkan kerumitannya, bahasa Inggris mengenal berbagai tenses (present, past, future dll) yang tentunya membuat kalimat menjadi lebih rumit untuk dirangkai.
Posting ini tidak membahas perbandingan antar bahasa itu, hanya menunjukkan bahwa bahasa Indonesia yang baku sebenarnya relatif lebih sederhana, tetapi pada praktek sehari-harinya menjadi rumit karena modifikasi-modifikasi yang dilakukan dengan atau tanpa sengaja, sehingga menjadi umum digunakan, dan akhirnya membuat bahasa Indonesia (yang tidak baku) menjadi susah. Contoh-contoh yang terpikir oleh saya saat ini:
1. Penyebutan subyek orang pertama.
Maksudnya kata "saya". Ada berapa kata yang sering digunakan dalam percakapan sehari-hari? Banyak sekali! "saya","aku" (masih benar) "ogut","ane","aq", "gue","gw","eke","aye","i", yang mana sudah termodifikasi dengan bahasa daerah, slank, atau bahasa asing. Bayangkan kalo ada orang asing yang belajar bahasa Indonesia dan membaca/mendengar penggunaan kata-kata tersebut, bisa puyeng dia.
2. Lw.
Kalo dibaca sekilas, pasti bingung apa itu "lw", tapi kalo baca ada yang nulis gini "lw bisa mampir ke rumah gw ga?", maka kita tau maksudnya lw = lu = kamu. Ini contoh hasil modifikasi dari modifikasi yang semakin lama semakin nggak nyambung. Awalnya kan "gue" jadi "gw", yah mirip-miriplah "ue" sama "w", setelah "gw" menjadi umum, maka dimodifikasi lagi "lu" jadi "lw".
3. Populer.
Nah ini kesalahan yang sudah sangat umum terjadi. Yang benar adalah "popular", diambil dari bahasa Inggris. Tiap kali saya nulis "populer" di artikel PC Media, selalu diganti oleh bagian editor menjadi "popular". Walau "popular" sering ditulis "populer", tapi "popularitas" rupanya belum umum menjadi "populeritas".
4. Sekedar.
Yang benar adalah sekadar. Karena kata dasarnya adalah "kadar", seperti kita bilang "ala kadar", tapi kata "sekedar" sudah benar-benar mendarah daging, saya mencoba membandingkan kata "sekedar" dan "sekadar" di Google, ternyata Google menampilkan lebih banyak kata "sekedar" pada hasil pencariannya.
5. Daripada.
"Dia adalah ibu daripada anak itu", merupakan contoh kata "daripada" yang digunakan secara salah, yang sering digunakan oleh mantan presiden kita, Pak Harto. Walaupun demikian, kesalahan ini tidak pernah menjadi populer, eh... popular, atau jarang ditiru, dibandingkan dengan yang dibawah ini....
6. Secara.
"Rapi sekali, secara saya tidak pernah lihat kamu pakai dasi". Ini penggunaan kata "secara" secara tidak benar, dan menurut saya kesalahan paling gawat yang pernah saya temui, dan saya takutkan akan menjadi umum. Tetapi mau tidak mau saya salut juga melihat bagaimana penggunaan kata yang amburadul ini bisa menyebar dengan luar biasa cepat (setau saya baru sekitar pertengahan/akhir 2008 sering digunakan), terutama secara tertulis, kalau secara lisan masih agak jarang saya dengar.
Kenapa gawat, karena kata ini mengubah arti kata "secara", menimbulkan kerancuan, dan tidak terlihat secara kasat mata. Maksudnya kalo kata yang nggak baku seperti "nggak","gue","pake","kalo", dll kan bisa langsung terlihat dan langsung ada kesan situasi santai atau tidak resmi/formal, tapi "secara" pada kalimat di atas bisa tampak baku.
Pasti masih banyak lagi daftar kesalahan umum, yang sudah susah untuk dihilangkan. Tapi menurut saya yang penting kita masih sadar kapan menggunakannya, yang santai dan yang formal, yang baku dan yang tidak baku. Hidup bahasa Indonesia! :)
Posting ini tidak membahas perbandingan antar bahasa itu, hanya menunjukkan bahwa bahasa Indonesia yang baku sebenarnya relatif lebih sederhana, tetapi pada praktek sehari-harinya menjadi rumit karena modifikasi-modifikasi yang dilakukan dengan atau tanpa sengaja, sehingga menjadi umum digunakan, dan akhirnya membuat bahasa Indonesia (yang tidak baku) menjadi susah. Contoh-contoh yang terpikir oleh saya saat ini:
1. Penyebutan subyek orang pertama.
Maksudnya kata "saya". Ada berapa kata yang sering digunakan dalam percakapan sehari-hari? Banyak sekali! "saya","aku" (masih benar) "ogut","ane","aq", "gue","gw","eke","aye","i", yang mana sudah termodifikasi dengan bahasa daerah, slank, atau bahasa asing. Bayangkan kalo ada orang asing yang belajar bahasa Indonesia dan membaca/mendengar penggunaan kata-kata tersebut, bisa puyeng dia.
2. Lw.
Kalo dibaca sekilas, pasti bingung apa itu "lw", tapi kalo baca ada yang nulis gini "lw bisa mampir ke rumah gw ga?", maka kita tau maksudnya lw = lu = kamu. Ini contoh hasil modifikasi dari modifikasi yang semakin lama semakin nggak nyambung. Awalnya kan "gue" jadi "gw", yah mirip-miriplah "ue" sama "w", setelah "gw" menjadi umum, maka dimodifikasi lagi "lu" jadi "lw".
3. Populer.
Nah ini kesalahan yang sudah sangat umum terjadi. Yang benar adalah "popular", diambil dari bahasa Inggris. Tiap kali saya nulis "populer" di artikel PC Media, selalu diganti oleh bagian editor menjadi "popular". Walau "popular" sering ditulis "populer", tapi "popularitas" rupanya belum umum menjadi "populeritas".
4. Sekedar.
Yang benar adalah sekadar. Karena kata dasarnya adalah "kadar", seperti kita bilang "ala kadar", tapi kata "sekedar" sudah benar-benar mendarah daging, saya mencoba membandingkan kata "sekedar" dan "sekadar" di Google, ternyata Google menampilkan lebih banyak kata "sekedar" pada hasil pencariannya.
5. Daripada.
"Dia adalah ibu daripada anak itu", merupakan contoh kata "daripada" yang digunakan secara salah, yang sering digunakan oleh mantan presiden kita, Pak Harto. Walaupun demikian, kesalahan ini tidak pernah menjadi populer, eh... popular, atau jarang ditiru, dibandingkan dengan yang dibawah ini....
6. Secara.
"Rapi sekali, secara saya tidak pernah lihat kamu pakai dasi". Ini penggunaan kata "secara" secara tidak benar, dan menurut saya kesalahan paling gawat yang pernah saya temui, dan saya takutkan akan menjadi umum. Tetapi mau tidak mau saya salut juga melihat bagaimana penggunaan kata yang amburadul ini bisa menyebar dengan luar biasa cepat (setau saya baru sekitar pertengahan/akhir 2008 sering digunakan), terutama secara tertulis, kalau secara lisan masih agak jarang saya dengar.
Kenapa gawat, karena kata ini mengubah arti kata "secara", menimbulkan kerancuan, dan tidak terlihat secara kasat mata. Maksudnya kalo kata yang nggak baku seperti "nggak","gue","pake","kalo", dll kan bisa langsung terlihat dan langsung ada kesan situasi santai atau tidak resmi/formal, tapi "secara" pada kalimat di atas bisa tampak baku.
Pasti masih banyak lagi daftar kesalahan umum, yang sudah susah untuk dihilangkan. Tapi menurut saya yang penting kita masih sadar kapan menggunakannya, yang santai dan yang formal, yang baku dan yang tidak baku. Hidup bahasa Indonesia! :)



Mantaaap, Pak... ada posting-an Kesalahan Umum Berbahasa Indonesia juga. Iya, kata2 semacam "populer" itu mungkin karena merupakan kata2 serapan dari bahasa asing (Inggris) kali yah, jadi pemakaiannya sepertinya belum serempak. Eh, tapi itu kan dibahas di EYD ya, Pak? Saya sendiri udah biasa pake kata "populer" daripada "popular", kalau kata itu dipakai dalam konteks bahasa Indonesia. Kata-kata lain, seperti: gw/w, elo/elu/lw, dll (apalagi kata: "eke", yang umum dipake ama kalangan waria (?)) seh gampang kita dapet dari pergaulan sehari-hari.
Siiip deh, Pak, ulasan kesalahan bahasa Indonesia ini, yang sebenarnya kita sendiri barangkali masih banyak salah2 dalam pemakaiannya (baca: bahasa Indonesia versi baku, yang baik dan benar serta "dapat dipertanggungjawabkan" :)).
betul pak, memang nggak gampang untuk benar-benar baku ya hehehe.. bisa2 yang baku malah dianggap aneh saking seringnya kita pake yang nggak baku, tapi itulah suka duka berbahasa, mungkin bahasa lain ada masalahnya sendiri2 juga :p
positifnya mungkin bisa membuat komunikasi jadi tidak kaku, lucu, dll. asal tempatnya cocok mungkin ngga masalah, misalnya kalo di SMS kan sering kita baca s7 = setuju, t4 = tempat, g = bisa berarti "gue" atau "nggak", tergantung kalimat. tapi kalo singkat-menyingkat gitu diterapin di email, bisa bikin puyeng yang baca hehehe...
Yah..mungkin saja nantinya gara-gara banyaknya orang yang pakai bahasa tanpa EYD, bahasa Indonesia melebur dengan bahasa daerah lainnya
Kalau seperti itu, bahaya ngga mas?
Kabar Di PC Media gimana?
bahaya sih ngga nan, paling orang asing yg belajar bahasa Indonesia yg baik dan benar jadi stres pas ngomong sehari-hari kok beda banget, atau ujung2nya orang asing lebih pinter ngomong bahasa Indonesia yang baku dibandingkan kita :D
saya dulu sempat berpikir apa kalo bahasa Inggris juga seperti itu, kita capek2 belajar ngga taunya prakteknya susah. Emang ada sih kata-kata yang ngga baku/ngga formal/santai seperti ain't, gonna, tapi saya pikir antara Inggris yang formal dan non-formal masih lebih nyambung.
Tapi ya dimaklumi aja karena bahasa kita banyak menyerap dari bahasa daerah atau bahasa asing, + kreativitas menciptakan slang misalnya: bokep (kenapa yg kepikiran kata ini), jaim, lebay, jijay, dan lain-lain.
Asalkan ngga ngerusakin arti (seperti kata "secara" yg digunakan ngga bener), kayaknya sih asik2 aja.
di PC Media baek2 aja.. edisi terbaru segera terbit (UUP - ujung2nya promosi)
silahkan <== yang bener harusnya silakan
paling parah memang kata secara itu ya.. setahu saya itu sudah cukup lama.. saya tahunya malah dari situs ini: http://yulian.firdaus.or.id/2006/06/20/secara/
wah udah lama banget ya, dari 2006 udah ada :o ck ck ck...
ketahuan si JN suka nulis artikel di majalah Populer yak? ops Popular.... (btw ini majalah masih ada kan?)
masi ada pak popular, tapi ga mau ah nulis di sana, maunya yg fotoin aja :">
Masih banyak gan yang lebih parah dan yang buat lebih parah adalah pemakain kata-kata tersebut di sinetron kita yang notabene ditonton oleh banyak penduduk Indonesia (bener gak?).
Contohnya pemakaian kata "kita" yang sekarang lebih populer, eh popular untuk menggantikan "kami". Kata tersebut dibuat rancu dan menurut saya sudah sangat parah. Smoga ada yang usaha untuk memperbaiki ini smua. Amien