July 21, 2012

Pengobatan Alternatif dr Paulus Wahyudi Halim

Melanjutkan tulisan http://jokonurjadi.blogspot.com/2012/07/teman-baru-bernama-meningioma.html, tulisan kali ini difokuskan pada informasi sebuah alternatif herbal yang baru saya coba.

Berawal informasi dari teman, tercetus nama Paulus Wahyudi Halim yang merupakan seorang herbalis dan juga dokter. Dari penerawangan Google, beliau menggunakan bahan-bahan herbal yang banyak disarankan teman-teman saya, seperti daun sirsak dan tanaman obat lain, yang ia formulasikan untuk melawan kanker. Quote terkenal dari dr. Paulus yang tertebaran di Internet (yang disinyalir bersumber dari majalah Trubus) adalah: "Tak ada peluru ajaib untuk menembak kanker. Tanaman obat harus campuran sehingga sinergis dan hasilnya maksimal. Sinergisme juga menetralisir efek samping".

Karena kesannya cukup terpercaya, maka saya dan istri sepakat untuk mencobanya sebagai alternatif berikutnya setelah produk Tiens yang sebelumnya saya coba dicurigai memberikan hasil negatif yaitu kejangnya semakin sering dengan rekor 8 hari berturut-turut kejang, dan pernah dalam 1 hari terjadi 23 kali kejang (ini juga rekor) alias kalau di rata-rata hampir setiap jam terjadi kejang (kapan gue tidurnya coba?), kejang akhirnya berhenti berkat jasa obat anti kejang dari dokter. Tapi hasil positif produk Tiens juga ada, yaitu kejang hanya terjadi di telapak kaki dan tidak naik sampai tangan. Tapi tetap saja urgent untuk dicari alternatif pengobatan lainnya, karena gara-gara hal ini saya harus cuti kerja 1 minggu.

Maka dimulailah pencarian contact dan tempat praktek dr. Paulus, kami mendapatkan 2 nomor telpon tempat praktek dr. Paulus yang sangat sulit dihubungi karena tidak diangkat, sekali diangkat infonya juga tidak jelas, hanya dikatakan daftar jam 5 pagi untuk hari yang sama. Maka tanggal 20 Juli 2012, datanglah kami jam 4 lewat dikit ke lokasi yang ternyata hanya rumah biasa yang sepi tanpa plang praktek. Tetapi menuju jam 5 pagi, semakin banyak orang yang datang dan nongkrong didepan pagar mirip rombongan demo atau ngantri sembako. Akhirnya pagar dibuka dan kami yang datang awal-awal sudah yakin dapat nomor urut atas, ternyata harus kecewa karena pada lembar pasien sudah banyak yang mendaftar sehari sebelumnya (hal ini tidak diinformasikan lewat telp), jadi saya dan istri yang datang di urutan kedua pagi itu, akhirnya saat menulis nama di lembaran pasien, jatuhnya di urutan 49!

Setelah itu, jam 8 diadakan absen ulang sambil ambil nomor urut beneran, kami mendapat nomor urut 46. Sekitar jam 3 sore baru saya dan istri mendapat kesempatan masuk ke ruangan dokter. Dokternya walau sudah cukup tua dan rambutnya sudah putih semua, tapi masih tampak segar, beliau menggunakan antena sebagai pendeteksi penyakit dan obatnya, ilmu ini disebut radiesthesi, yang saya baca memang masih kontroversial di kalangan ilmiah dan medis, jadi masih masuk wilayah abu-abu atau pseudoscience. Saya pribadi juga tidak percaya, tapi saya percaya dengan ramuan obat herbalnya yang memang bukan dari tanaman obat yang kontroversial atau meragukan. Saya diberi resep 6 macam obat, yang saya ambil untuk jangka waktu 2 bulan (biayanya sekitar 2.5 juta hanya untuk menebus obat herbal, tidak ada biaya konsultasi dokter). Berhasil tidaknya obat ini, akan saya share apa adanya jika sudah menunjukkan hasil positif/negatif.

Yang lebih berkesan sebenarnya adalah pengalaman antri dari sekitar jam 4 pagi sampai sekitar jam 7 malam (sekitar 15 jam!), ngobrol dengan pasien lainnya yang rata-rata welcome dan easy going, bersemangat sharing dan berbagi informasi, jauh dari bayangan kumpulan penderita kanker/tumor/penyakit lain yang sedih dan kusut, setidaknya mampu antri berjam-jam sudah membuktikan semua yang ada disana penuh semangat. Cocok banget dengan apa yang saya yakini, jika kita sakit tetapi kita masih bisa care dan berbuat baik pada orang lain, hal tersebut akan memperingan sakit kita secara psikologis. Saat melihat orang yang sakitnya lebih parah dibanding kita, janganlah berpikir "masih untung saya tidak separah itu", tapi berpikirlah "malu sekali saya mengeluh dengan penyakit yang tidak separah itu, apa yang bisa saya lakukan untuk mereka?".

Karena info mengenai tatacara praktek dr. Paulus ini tidak pernah saya temukan di Internet, maka saya sharing di bawah ini, karena info yang tidak lengkap bisa membuat anda antri seharian atau lebih parahnya lagi tidak mendapat nomor urut, bete kan rasanya apalagi sudah datang jauh-jauh.

Alamat praktek dr. Paulus Wahyudi Halim

Perumahan GriyaLoka
Jl. Suplir Blok F1/13 Sektor 1.5
Bumi Serpong Damai
Telp. 021 5380639/5382114

Patokan: dari sekolah St. Ursula, terus sedikit, masuk Jl. Rawa Buntu Utara, lalu belok kanan ke Jl. Suplir. Kalo dari arah ini, rumahnya ada di sebelah kanan.

Catatan:
- Jika anda menelpon, jangan harap telp diangkat. Kalau diangkat manfaatkan dengan tanya hal yang penting.
- Menyebut Perumahan GriyaLoka penting jika Anda mau pulang dengan taksi, karena taksi perlu informasi nama perumahannya.
- Pasien dibatasi 50 pasien sehari (ada praktek sore di luar 50 pasien, namun tata cara pendaftaran kami tidak tahu)
- Prakteknya hari senin, rabu, jumat.
- Pastikan bawa kartu pengenal (KTP atau SIM) yang diperlukan saat pendaftaran.
- Pendaftaran dilakukan satu hari sebelumnya, misalnya untuk hari senin, bisa daftar di hari minggu sekitar jam 12, besoknya absen ulang sebelum jam 8 pagi dan antri ketemu dokternya.
- Kalau pasiennya tidak bisa datang, bisa diwakilkan dengan membawa foto pasien yang nantinya akan dideteksi oleh dokter.
- semua catatan ini berlaku saat saya kesana (20 Juli 2012), bisa saja nanti ada ketentuan baru, mengingat pasiennya yang luar biasa banyaknya dan bisa dari mana saja (Jakarta, Bandung, atau bahkan ada yang lintas pulau).


sharing seputar kesehatan, termasuk kanker/tumor di https://www.facebook.com/groups/canceria.tumoria/

9 comments:

Anonymous said...

trima kasih infornya, sangat berguna dan saya juga bermaksud untuk berobat kepada ybs...

Joko Nurjadi said...

sama2 pak, semoga mendapatkan hasil yang baik :)

KANE MERWYN said...

pak, joko sekarang hasil pengobatannya gimana? sudah ada kemajuan yg berarti. saya bermaksud membawa orang tua saya ke sana juga. thank untuk infonya.

Joko Nurjadi said...

@KANE MERWYN, saya setelah 2 bulan makan obat dokter paulus, sudah jarang sekali kejang, dalam sekitar 2 bulan hanya terjadi 2x kejang sementara sebelum makan obat tersebut, hampir tiap hari kejang. Saya pikir kemajuannya jelas terlihat. Kalau berkenan anda dapat join group facebook saya: https://www.facebook.com/groups/canceria.tumoria/ agar kita bisa saling share lebih jauh, karena di blog saya jarang cek :)

Anonymous said...

Pak Joko, apakah ramuan herbalnya hrs direbus? Atau berupa kapsul? Trmksh atas infonya

Joko Nurjadi said...

kalau obat untuk saya, 5 jenis berupa kapsul dan 1 jenis berupa jamu yang diseduh pak :)

Rizwana & Azkia said...

untuk info http://www.youtube.com/watch?v=JrcHYCX3fZk&list=UU-cQSP5LoERDz3td_EhQL4g&index=2&feature=plcp

Rizwana & Azkia said...

untuk info http://www.youtube.com/watch?v=JrcHYCX3fZk&list=UU-cQSP5LoERDz3td_EhQL4g&index=2&feature=plcp

Rizwana & Azkia said...


Prof Warsito. Alat ciptaan Warsito adalah pembalut dada atau bra atau BH dilengkapi cancer electro capacitive therapy. Bra ECCT. ECCT kepanjangan dari electro capacitive cancer treatment. Penyandang gelar doktor dari Universitas Shizuoka, Jepang tahun 1997 menemukan pemindai tubuh (tomografi) berbasis listrik statis, ECVT. Bentuknya seperti rompi antipeluru setengah badan, atau kutang. Alat inilah yang yang mampu membunuh sel-sel kanker.
Sejak awal tahun 2012, Prof Dr Warsito menjadi dosen tetap di Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (MIPA) Universitas Indonesia (UI) itu kemudian membuka Ctech Labs (Center for Tomography Research Laboratory) Edwar Technology, Ruko Perumahan Modernland, Tanggerang, Banten.
Ditemui di kantornya, Ctech Labs, Kamis (15/11), Warsito mengaku sudah melayani sekitar 3.000 orang. Mereka menggunakan alat ciptaannya dengan sistem sewa, Rp 4 juta untuk masa enam bulan. Alat tidak diperjualbelikan, melainkan disewakan. Setelah usai masa pemakaian, alat ditarik dan didaur ulang.
Kini, bentuk Bra ECCT tidak lagi sebatas menyerupai bra wanita, akan tetapi juga ada yang berbentuk celana untuk penyembuhan kanker rahim. Bahkan ada berbentuk helm untuk membunuh kanker otak, hingga alat berbentuk selimut untuk kanker darah. Ia menyebutkan ada sekitar 50 jenis alat yang tersedia, yang kesemuanya telah mandapatkan hak paten.

Kontak Prof Warsito P.Taruno
CTECH LABS EDWAR TECHNOLOGY
Jl. Hartono Raya R-28, Modernland, Cikokol, Tanggerang 15117.
Telp. 5529930